Home Artikel Hari Kebangkitan Nasional: Menuju kemandirian dengan semangat pengorbanan
Hari Kebangkitan Nasional: Menuju kemandirian dengan semangat pengorbanan PDF Print E-mail

Tanggal 20 Mei kita memperingatinya sebagai hari kebangkitan nasional. Kita mengingat kembali salah satu momentum bangsa ini untuk menjadi bangsa merdeka, bebas dari penjajahan bangsa lain. Namun seringkali, peringatan momentum momentum bersejarah bangsa ini hanya bersifat seremonial dan miskin substansi. Upacara dan peringatan digelar namun kurang memberikan sumbangan yang berarti dalam melakukan perbaikan perbaikan sesuai dengan konteks dan kondisi bangsa Indonesia saat ini.


Pada usianya yang telah mencapai 66 tahun setelah merdeka ini, sebagian besar sumber daya migas kita masih dikelola oleh perusahaan asing. Hanya kurang dari 20% dari migas kita dikelola oleh perusahaan nasional. Padahal sebagian besar kebutuhan energi kita masih dipasok dari migas. Migas memasok 67% dari kebutuhan energi primer nasional. Padahal, gejolak pasokan bahan bakar minyak (BBM) dapat menyebabkan gejolak sosial dan bahkan gejolak politik dan menjadi momok bagi siapapun. Dan fakta menunjukkan bahwa potensi sumber daya migas baru sebagian kecil yang kita kelola secara mandiri.

Demikian juga dengan pengelolaan batu bara. Sebagian besar batu bara kita masih diekspor ke luar negeri untuk menghidupi industri luar negeri. Pada tahun 2011, jumlah produksi batubara nasional sekitar 320 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 240 juta ton diekspor ke luar negeri. Jadi sekitar 75% batu bara yang kita produksi diekspor ke luar negeri. Sebuah kondisi yang jarang dilakukan oleh negara yang memiliki sumber energi cukup cukup saja. Indosia menempati negara pengekspor batubara terbesar kedua setelah Australia yang memiliki kekayaan batubara melimpah ruah  dengan cadangan terbukti mencapai 85 milyar ton. Sementara cadangan terbukti yang dimiliki Indonesia hanya sekitar 5,5 milyar ton.

Sumber kekayaan mineral kita pun masih diekspor dalam bentuk bahan mentah yang, tentu saja, nilainya sangat murah. Nilai tambah yang dapat diberikan kepada bahan mineral dari bumi pertiwi masih banyak mendukung peningkatan negara lain. Melalui UU minerba no 4 tahun 2009, pemerintah bersama dengan DPR telah sepakat untuk menghentikan ekspor bahan mineral mentah ke luar negeri mulai tahun 2014. Saat ini adalah masa transisi untuk mempersiapkan diri sebelum penghentian ekspor bahan mentah mineral tersebut diterapkan secara penuh. Namun, yang terjadi justri lebih terlihat sebagai “aji mumpung”, ketika ekspor bahan mentah belum dilarang. Ekspor bahan mentah mineral meningkat besar besaran dalam 3 tahun terakhir, meningkat rata rata mencapai 8 kali lipat. Jika dibiarkan, ada beberapa jenis mineral akan habis dalam 3 tahun ke depan. Upaya untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri ditanggapi oleh sebagian pihak sebagai penghambat ekonomi karena mereka kurang keras dalam berusaha. Untuk naik kelas memang harus bekerja keras, tidak bisa hanya dengan bekerja biasa biasa saja seperti selama ini.

Indonesia dikarunia laut yang luas. Sejak kecil pun bangsa ini diajari senandung “nenek moyangku seorang pelaut”. Namun garis pantai Indonesia yang memanjang hampir sepanjang 100 ribu kilo meter masih belum memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hasil laut beupa ikan merupakan sumber gizi yang menyehatkan masyarakat. Namun ternyata hasil laut tersebut belum mampu meningkatkan tingkat gizi masyarakat dan juga tingkat kesejahteraan masyarkat secara berarti. Ada yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan laut kita. Yang sering muncul dalam berita adalah penangkapan terhadap kapal asing yang memanfaatkan kekayaan laut kita, bukan penangkapan ikan yang meningkat secara signifikan.
Hasil hasil hutan kita pun termasuki rotan masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai rendah. Baru belakangan mulai tumbuh kesadaran untuk menghentikan ekspor rotan untuk meningkatkan nilai tambahnya di dalam negeri.

Dan masih banyak lagi sederetan potensi bangsa ini yang perlu diolah sehingga menjadi pilar pilar kemandirian dan daya saing bangsa. Namun, fakta dan realita tersebut seringkali kurang dijadikan pelajaran dalam memperingati hari kebangkitan nasional.
Perjuangan memerlukan pengorbanan. Itulah kaidah umum dan juga sunatullah yang berlaku di alam ini. Dalam pepatah jawa dikenal dengan “jer basuki mawa bea”. Namun, ditengah hingar bingar, hiruk pikuk dan kegaduhan yang kadan melanda kehidupan bangsa ini, semangat perjuangan dengan semangat berkurban yang dimiliki oleh para pahlawan ini seringkali dilupakan. Budaya instant, cara pandang jangka pendek dan menonjolkan kepentingan individu masih sering mendominasi. Hari kebangkitan nasional perlu kita jadikan momentum untuk mengingat jasa para pahlawan dengan pengorbanannya. Hasil dari pengorbanan mereka tidak mereka nikmati sendiri, namun dirasakan oleh seluruh penghuni negeri ini. Ini lah semangat juang para pahlawan sejati yang akan menjadi pupuk bagi tumbuhnya kejayaan negeri ini.
 

 

 
 

Ads on: Special HTML