Home Artikel Defisit Perdagangan Indonesia Periode Januari- Mei 2012
Defisit Perdagangan Indonesia Periode Januari- Mei 2012 PDF Print E-mail

Liberalisasi perdagangan telah memukul neraca perdagangan Indonesia . Pada bulan Mei 2012, perdagangan Indonesia mengalami defisit  sebesar 490 juta dollar AS, lebih rendah bila dibandingkan dengan defisit pada April 2012 yaitu sebesar 640 juta dollar AS. Defisit perdagangan yang terjadi sekarang ini disebabkan oleh nilai impor yang meningkat, terutama impor bahan baku industri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total ekspor sepanjang bulan  Mei mencapai 16,72 miliar dollar AS, sementara impor 17,21 miliar dollar AS. Kinerja ekspor di bulan Mei turun 8,55 persen dibandingkan Mei 2011 sedangkan Impor mengalami kenaikan sebesar 16,09 persen.

Secara kumulatif, ekspor Januari  sampai dengan bulan Mei sebesar 81,42 miliar dollar AS atau tumbuh 1,48 persen. Pada periode Januari-Mei , total impor 79,90 miliar dollar AS, tumbuh 16,62 persen. Komoditas unggulan yang nilai ekspornya  turun adalah bijih, kerak, abu logam, karet dan barang dari karet, kertas/karton, lemak dan minyak hewan/nabati.  Sementara itu penurunan nilai terjadi  pada ekspor dengan tujuan; Singapura, Malaysia, Jerman, Perancis, Korea Selatan. Penurunan ini diukur dari data bulan Mei 2011 dibandingkan dengan bulan Mei 2012.

Defisit perdagangan ini tidak hanya melanda Indonesia saja, namun meluas  ke beberapa Negara yang semula mengalami surplus perdagangan, diantaranya adalah Singapura, Korea Selatan dan Jepang. Singapura mengalami deficit perdagangan sebesar 0,4 miliar dollar AS, padahal sebelumnya mengalami surplus 285,8 juta dollar AS.

Korea Selatan pun mengalami hal yang sama. Pada tahun lalu (periode Januari- Mei), Negara ini mengalami surplus sebesar 251,4 juta dollar AS dan pada tahun ini mengalami deficit sebesar 0,7 miliar dollar AS. Sementara itu, Jepang juga mengalami desifit sebesar 2,4 miliar dollar AS, padahal tahun sebelumnya   surplus hingga 268,2 juta dollar AS. 

Penurunan surplus perdagangan ini dipacu oleh beberapa hal, salah satunya adalah terjadinya lonjakan impor bahan baku dan barang modal  yang didorong oleh peningkatan kegiatan manufaktur yang mengantisipasi  permintaan ekspor dengan impor bahan baku. Bahan baku dan barang modal masih mendominasi neraca impor barang di Indonesia senilai 74,3 milar dollar AS. Impor bahan baku tumbuh 13,1 persen pada periode Januari-Mei 2012 dengan ilai 58,4 miliar dollar AS atau naik 6,8 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2011.

 

Penurunan nilai ekspor non migas terjadi pada beberapa sektor yaitu pertanian, industri dan pertambangan serta  lainnya. sektor pertanian, pada periode januari hingga mei 2012, terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 2,64 persen. Pada bulan Januari –Mei 2011 nilai ekspor tercatat sebesar 2.135,9 juta dollar AS dan pada bulan periode yang sama tahun 2012 tercatat sebesar 2.079,5 juta dollar AS.

Pada bidang industri, terjadi pula penurunan nilai ekspor sebesar 3,06 persen. Pada periode januari-Mei 2011 nilai ekspor bidang industri mencapai 49.55,5 juta dollar AS dan tahun ini menurun hingga 48.042,0 juta dollar AS. Sementara itu, pada bidang pertambangan dan lainnya terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar 12,71 persen.

Ada beberapa hal yang bisa terjadi akibat adanya penurunan ekspor. Diantaranya adalah: kapasitas produksi menurun, surplus dalam neraca perdagangan Indonesia menipis, pertumbuhan ekonomi terganggu, pekerja terkena pengurangan jam kerja bahkan PHK, neraca pembayaran Indonesia terpengaruh dan  pendapatan devisa menurun.

Defisit perdagangan selama dua bulan berturut-turut pada bulan April-Mei ini menuntut adanya perhatian dari kementerian yang terkait. Koordinasi antara beberapa kementerian terkait ini diperlukan untuk mencari solusi terbaik bagi permasalahan ini. Kementerian perindustrian dan perdagangan perlu bersinergi untuk mendorong peningkatan ekspor,  mencari pasar baru bagi ekspor, dan mampu menekan impor. Jika pemerintah tidak memikirkan secara serius permasalahan ini, maka bisa jadi tren penurunan ekspor ini akan terjadi hingga akhir tahun 2012. Sinergi antar kementerian ini diperlukan karena pemecahan permasalahan ekspor impor ini tidak dapat diselesaikan oleh satu kementerian saja, perlu kerjasama yang baik antar kementerian terkait.

Salah satu kebijakan dari kementerian perdagangan mengenai impor adalah terbitnya Peraturan Menteri perdagangan No 27 tahun 2012 mengenai Angka Pengenal Impor.  Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No 27 tahun 2012, Importir harus memiliki APIU (Angka Pengenal Importir Umum) . Satu perusahaan  tidak dapat memiliki lebih dari satu APIU. Kebijakan ini dapat memperketat masuknya produk impor.

Selain itu, pemerintah harus dapat  memiliki strategi dalam melakukan perdagangan internasional meliputi: mendorong penguatan dan perlindungan pasar domestic, ekspor produk yang bernilai tambah dan intensifikasi perdagangan internasional. Penguatan pasar domestik ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan Exceptions of WTO Principles, proteksi, intervensi dalam kondisi tertentu serta keberpihakan pemerintah dalam subsidy dan insentif.

Pemerintah perlu mempermudah pendirian industry bahan baku atau penolong untuk mendorong industry hilir. Hal ini menjadi hal yang penting untuk mengurangi ketergantungan impor bhan baku industry. Fasilitas insentif soal ketentuan tax allowance ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 62 tahun 2008 tentang fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) untuk kegiatan Penanaman Modal di Sektor Usaha Tertentu dan Wilayah tertentu. PP ini adalah revisi dari regulasi sebelumnya yaitu PP No 1 tahun 2007. Pemerintah perlu mensinkronkan mengenai kebijakan penetapan beas masuk untuk bahan baku dengan barang jadi karena bahan-bahan baku penoong untuk industry manufaktur justri terkena bea masuk sementara produk jadi tidak. Hal ini tentu saja tidak akan dapat mendorong tumbuhnya industry dalam negeri.

 

 

 

 
 

Ads on: Special HTML